Langsung ke konten utama

Kita

Kita ini apa? Hanya dipertemukan bukan untuk saling menyatukan. Kenapa harus seperti ini? Kita saling kenal, tetapi, Tuhan tidak membuatnya menjadi satu.

Kita hanya terjebak dalam permainan perasaan, atau mungkin hanya aku yang terjebak? Sedangkan engkau, hanya terlihat biasa saja, hanya menganggap pertemuan kita ini hanyalah biasa. Tapi, aku yang selalu berharap kita bisa sama-sama menjalin komitmen, agar kelak kau dan aku saling menjaga dan punya tujuan yang sama.

Tidak seperti ini, hanya tenggelam dalam permainan perasaan yang terus menertawakan. Jika memang ini yang terbaik dan jika memang ini pilihanNya. Tak apa, satu hal yang aku syukuri karena bisa dipertemukan olehmu, dan pernah bersatu dalam doa, walaupun pada kenyataanya kita tidak pernah dipersatukan dalam takdirNya. Hanya sebatas mimpi.

Kini biarlah aku yang menerima, walaupun air mata ini menahan agar tidak berjatuhan, kini aku sekarang bagaikan teriris sembilu. Aku rela menahan, asalkan kau tidak tahu apa yang sedang aku harapkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resah

Kali ini saja beberapa hati sedang resah, entah karena sudah tak lagi punya rasa atau hanya diabaikan tanpa arah. Sebuah tunggu tanpa di tunggu. Keresahan yang menjelma menjadi kekesalan yang tak kunjung temu. Hanya karena kau sukar untuk di temukan, kemudian resah ini menjadi tak beraturan.  Hanya bisa bungkam, dan memendam dalam harapan yang di rengkuh temaram. Kau jernih diantara buram, kau nyata diantara pudar. Namun kau menanggalkan dan aku keresahan. Sudah tak ada lagi rasa. Hanya resah yang terus berdatangan, mengutuk diri dalam hati yang semakin gundah.

Tertatih

Sekarang aku yang menyendiri dalam sudut sepi, tatkala harus tertatih menanggalkan bahagia yang sudah terhenti. Kita mungkin sudah tidak seirama, kita mungkin hanya sekadar kebahagiaan sementara. Tak abadi, seperti garis waktu yang terus melaju. Tentang kebahagiaan yang tertutup lara, hingga aku kira kau tempat kebahagiaan, nyatanya hanya sepintas kesementaraan. Luluh lantak sudah hati ini, sudah tak punya tawa, mati dalam tiap rima yang tercipta. Kita pernah sedekat nadi, dan akhirnya berujung di jauhkan pergi. Kau akan selalu kusematkan dalam setiap sedih, tertatih mencari ujung duka yang tak pernah sudah. Kita lebur dalam takdir. kita hancur dalam jarak, mengundang kerinduan yang perlahan berkerak.

Akhir yang Berakhir

Baiknya kita lupakan saja semua pengharapan. Percayalah, sakit sekali berharap dengan seorang yang jiwanya sudah bersama dengan hati yang lain. Manusia memang terkadang suka aneh. Katanya lebih baik mencari ketimbang mengutuk diri, katanya lebih baik mengharapi daripada diam dalam isak tangis yang tak jua henti. Padahal, yang di tuju pun sudah tak pernah menatap ke sini. Tapi, sudilah beberapa perasaan dibiarkan mengambang tanpa pijakan. Karena yang kita harapkan juga tidak memperdulikan. Beberapa rasa sudilah dibiarkan bungkam, itu jauh lebih nyaman. Dibandingkan pernyataan tapi tanpa sebuah balasan. Biarlah kenangan ini aku yang menyimpan, kau bahagia saja dengan tujuanmu yang selalu diharapkan. Biarlah aku jadi penyimpan ruang kenangan yang tak akan bisa hilang dalam ingatan.