Langsung ke konten utama

Antara

Apakah ada aku jauh di ruang hatimu? Apakah kau tahu? Dalam hatimu yang sudah tanpaku itu. Masih adakah aku di sana? Kurasa tidak, yang aku tahu kau pun sudah menutup segala kenangan yang terhenti itu. Kini yang mengisi ruang hatimu adalah makhluk lain yang sempat kau taruh di antara penghubung hati kita.

Kau sembunyikan dia, bak musuh dalam selimut yang terlindungi batu karang. Dan itu ulahmu, kau yang mahir melindungi ia dalam antara penghubung hati kita.

Kini di ruang hatiku pun sedang berusaha bahagia, sedang mencoba bangkit dari reruntuhan puing kenangan tentangmu. Tak perlu lagi di hubungkan kembali, karena di antara kita sudah ada jiwa yang kau sembunyikan dalam asa.

Aku berharap di antara kita tidak lagi saling mematahkan, cukuplah, berbahagia saja kau dengan pilihanmu. Aku akan termangu dalam antara ruang hati itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resah

Kali ini saja beberapa hati sedang resah, entah karena sudah tak lagi punya rasa atau hanya diabaikan tanpa arah. Sebuah tunggu tanpa di tunggu. Keresahan yang menjelma menjadi kekesalan yang tak kunjung temu. Hanya karena kau sukar untuk di temukan, kemudian resah ini menjadi tak beraturan.  Hanya bisa bungkam, dan memendam dalam harapan yang di rengkuh temaram. Kau jernih diantara buram, kau nyata diantara pudar. Namun kau menanggalkan dan aku keresahan. Sudah tak ada lagi rasa. Hanya resah yang terus berdatangan, mengutuk diri dalam hati yang semakin gundah.

Tertatih

Sekarang aku yang menyendiri dalam sudut sepi, tatkala harus tertatih menanggalkan bahagia yang sudah terhenti. Kita mungkin sudah tidak seirama, kita mungkin hanya sekadar kebahagiaan sementara. Tak abadi, seperti garis waktu yang terus melaju. Tentang kebahagiaan yang tertutup lara, hingga aku kira kau tempat kebahagiaan, nyatanya hanya sepintas kesementaraan. Luluh lantak sudah hati ini, sudah tak punya tawa, mati dalam tiap rima yang tercipta. Kita pernah sedekat nadi, dan akhirnya berujung di jauhkan pergi. Kau akan selalu kusematkan dalam setiap sedih, tertatih mencari ujung duka yang tak pernah sudah. Kita lebur dalam takdir. kita hancur dalam jarak, mengundang kerinduan yang perlahan berkerak.