Langsung ke konten utama

Hujan

Ada sepi dalam dinginnya malam, hujan yang menemani dalam kelam kini menjadi pelepas rindu yang tak jua padam. Deras hujan semakin berjatuhan, serta pengharapan ini yang terus bercucuran.

Aku memang hanya pecundang yang mengenang dikala hujan, aku hanya pecundang yang memujamu dalam angan. Hujan pernah mengantarkan rindu, tetapi tidak denganmu. Kau angkuh, untuk sekadar bertemu.  

Tatkala hujan ini reda, aku akan terus menanti hangat pelukmu. Menanti datangmu, walaupun hanya sekadar melihatmu. Itu sudah cukup, karena kini hanya hujan yang bisa menyampaikan pengharapan padamu seorang yang tak jua datang. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resah

Kali ini saja beberapa hati sedang resah, entah karena sudah tak lagi punya rasa atau hanya diabaikan tanpa arah. Sebuah tunggu tanpa di tunggu. Keresahan yang menjelma menjadi kekesalan yang tak kunjung temu. Hanya karena kau sukar untuk di temukan, kemudian resah ini menjadi tak beraturan.  Hanya bisa bungkam, dan memendam dalam harapan yang di rengkuh temaram. Kau jernih diantara buram, kau nyata diantara pudar. Namun kau menanggalkan dan aku keresahan. Sudah tak ada lagi rasa. Hanya resah yang terus berdatangan, mengutuk diri dalam hati yang semakin gundah.

Tertatih

Sekarang aku yang menyendiri dalam sudut sepi, tatkala harus tertatih menanggalkan bahagia yang sudah terhenti. Kita mungkin sudah tidak seirama, kita mungkin hanya sekadar kebahagiaan sementara. Tak abadi, seperti garis waktu yang terus melaju. Tentang kebahagiaan yang tertutup lara, hingga aku kira kau tempat kebahagiaan, nyatanya hanya sepintas kesementaraan. Luluh lantak sudah hati ini, sudah tak punya tawa, mati dalam tiap rima yang tercipta. Kita pernah sedekat nadi, dan akhirnya berujung di jauhkan pergi. Kau akan selalu kusematkan dalam setiap sedih, tertatih mencari ujung duka yang tak pernah sudah. Kita lebur dalam takdir. kita hancur dalam jarak, mengundang kerinduan yang perlahan berkerak.