Langsung ke konten utama

Dapatkah Kita Kembali

Tidak ada yang mustahil untuk terus berharap pada sebuah perasaan. Dapatkah kita kembali ?
Kau yang dulu aku dambakan, kau yang dulu menemani dalam kesenangan. Kini kau menjadi awan hitam yang luruh menjadi gemerlap.

Aku tidak menyangka jika pada akhirnya kita berpisah. Dapatkah kita kembali ? Dapatkah aku kembali melihat rekah senyummu dikala kita bersama? Itu adalah ilusi yang paling menenangkan, sekarang, hanya bisa aku sematkan dalam diam.

Di langit-langit kamar, aku selalu mengharapkanmu kembali. Karena kita pernah saling berjanji dan mengaminkan, hingga akhirnya kita berpisah oleh sebuah kesalahan.

Jemari kita pernah saling menggenggam, pundakku pernah menjadi sandaranmu dalam kesedihan. Namun, seakan semua hilang begitu saja. Kau sudah pergi dengan sebuah kenangan yang selalu menghantuiku. Luruh sudah rindu ini tak ada tujuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resah

Kali ini saja beberapa hati sedang resah, entah karena sudah tak lagi punya rasa atau hanya diabaikan tanpa arah. Sebuah tunggu tanpa di tunggu. Keresahan yang menjelma menjadi kekesalan yang tak kunjung temu. Hanya karena kau sukar untuk di temukan, kemudian resah ini menjadi tak beraturan.  Hanya bisa bungkam, dan memendam dalam harapan yang di rengkuh temaram. Kau jernih diantara buram, kau nyata diantara pudar. Namun kau menanggalkan dan aku keresahan. Sudah tak ada lagi rasa. Hanya resah yang terus berdatangan, mengutuk diri dalam hati yang semakin gundah.

Tertatih

Sekarang aku yang menyendiri dalam sudut sepi, tatkala harus tertatih menanggalkan bahagia yang sudah terhenti. Kita mungkin sudah tidak seirama, kita mungkin hanya sekadar kebahagiaan sementara. Tak abadi, seperti garis waktu yang terus melaju. Tentang kebahagiaan yang tertutup lara, hingga aku kira kau tempat kebahagiaan, nyatanya hanya sepintas kesementaraan. Luluh lantak sudah hati ini, sudah tak punya tawa, mati dalam tiap rima yang tercipta. Kita pernah sedekat nadi, dan akhirnya berujung di jauhkan pergi. Kau akan selalu kusematkan dalam setiap sedih, tertatih mencari ujung duka yang tak pernah sudah. Kita lebur dalam takdir. kita hancur dalam jarak, mengundang kerinduan yang perlahan berkerak.

Akhir yang Berakhir

Baiknya kita lupakan saja semua pengharapan. Percayalah, sakit sekali berharap dengan seorang yang jiwanya sudah bersama dengan hati yang lain. Manusia memang terkadang suka aneh. Katanya lebih baik mencari ketimbang mengutuk diri, katanya lebih baik mengharapi daripada diam dalam isak tangis yang tak jua henti. Padahal, yang di tuju pun sudah tak pernah menatap ke sini. Tapi, sudilah beberapa perasaan dibiarkan mengambang tanpa pijakan. Karena yang kita harapkan juga tidak memperdulikan. Beberapa rasa sudilah dibiarkan bungkam, itu jauh lebih nyaman. Dibandingkan pernyataan tapi tanpa sebuah balasan. Biarlah kenangan ini aku yang menyimpan, kau bahagia saja dengan tujuanmu yang selalu diharapkan. Biarlah aku jadi penyimpan ruang kenangan yang tak akan bisa hilang dalam ingatan.