Langsung ke konten utama

Kau

Cepat atau lambat memang semuanya akan terasa begitu menyakitkan. Kau benar, aku rindu. Dan kau sudah tak mau tahu. Bahagia yang sudah terhenti kini menjelma menjadi rindu yang tak mau pergi.

Kenapa datang jikalau akhirnya kau tenggelamkan aku? Apakah kau puas sekarang? Aku yang terus bersikukuh menahan luka dihati, dan kau, pergi dengan begitu berani.

Kau manusia yang aku puja setengah mati, puaskah kau membuatku tak berarti? Sungguh, kau telah merenggut senyumku, kau telah membunuh hatiku, dan kau telah menusuk sembilu ke dalam jiwaku. Kau pergi, lagi dan lagi. Sempurna. Kini aku merindukan hal-hal kecil yang pernah kita lewati, bukan untuk mengulangnya kembali. Hanya saja ingin mengingat kebahagiaanku yang telah kau hempaskan ke jurang yang begitu dalam.

Masa lalu itu sepatutnya jangan dibenci, dan tak ada yang perlu disesali. Barangkali ketika luka ini telah pulih, aku bukan lagi orang yang memujamu sampai tertatih. Kini kau adalah kisah yang tak perlu kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resah

Kali ini saja beberapa hati sedang resah, entah karena sudah tak lagi punya rasa atau hanya diabaikan tanpa arah. Sebuah tunggu tanpa di tunggu. Keresahan yang menjelma menjadi kekesalan yang tak kunjung temu. Hanya karena kau sukar untuk di temukan, kemudian resah ini menjadi tak beraturan.  Hanya bisa bungkam, dan memendam dalam harapan yang di rengkuh temaram. Kau jernih diantara buram, kau nyata diantara pudar. Namun kau menanggalkan dan aku keresahan. Sudah tak ada lagi rasa. Hanya resah yang terus berdatangan, mengutuk diri dalam hati yang semakin gundah.

Tertatih

Sekarang aku yang menyendiri dalam sudut sepi, tatkala harus tertatih menanggalkan bahagia yang sudah terhenti. Kita mungkin sudah tidak seirama, kita mungkin hanya sekadar kebahagiaan sementara. Tak abadi, seperti garis waktu yang terus melaju. Tentang kebahagiaan yang tertutup lara, hingga aku kira kau tempat kebahagiaan, nyatanya hanya sepintas kesementaraan. Luluh lantak sudah hati ini, sudah tak punya tawa, mati dalam tiap rima yang tercipta. Kita pernah sedekat nadi, dan akhirnya berujung di jauhkan pergi. Kau akan selalu kusematkan dalam setiap sedih, tertatih mencari ujung duka yang tak pernah sudah. Kita lebur dalam takdir. kita hancur dalam jarak, mengundang kerinduan yang perlahan berkerak.

Akhir yang Berakhir

Baiknya kita lupakan saja semua pengharapan. Percayalah, sakit sekali berharap dengan seorang yang jiwanya sudah bersama dengan hati yang lain. Manusia memang terkadang suka aneh. Katanya lebih baik mencari ketimbang mengutuk diri, katanya lebih baik mengharapi daripada diam dalam isak tangis yang tak jua henti. Padahal, yang di tuju pun sudah tak pernah menatap ke sini. Tapi, sudilah beberapa perasaan dibiarkan mengambang tanpa pijakan. Karena yang kita harapkan juga tidak memperdulikan. Beberapa rasa sudilah dibiarkan bungkam, itu jauh lebih nyaman. Dibandingkan pernyataan tapi tanpa sebuah balasan. Biarlah kenangan ini aku yang menyimpan, kau bahagia saja dengan tujuanmu yang selalu diharapkan. Biarlah aku jadi penyimpan ruang kenangan yang tak akan bisa hilang dalam ingatan.