Langsung ke konten utama

Kenang yang Tak Pernah Hilang

Dulu sebelum kepergianmu, aku sempat percaya. Bahwa aku memang satu-satunya yang kau pinta. Dulu sebelum engkau memilih beranjak pergi, aku sempat yakin bahwa malaikat menjaga agar cinta kita saling melengkapi.

Aku kira memang seperti itu takdirnya, pun nyatanya hanya semata-mata bualan saja.

Pada saat itu, kau dan aku pernah menjadi sepasang temu yang saling membahagiakan. Sebelum akhirnya kita saling melupakan. Kini, kau sudah tertawa bersama dirinya. Tunggu. Bukan hanya kau saja yang sedang tertawa, pun aku juga sedang tertawa. Iya. Menertawakan perihal luka.

Jadi sebelum bulan dan gemintang kembali hilang, sekarang aku hanya ingin mengenang. Tentang apa-apa yang sudah terlewati, tentang bahagia yang sudah terhenti. Karena setelah mengingat luka ini, aku kembali bersembunyi. Bersembunyi dalam topeng bahagia yang sebetulnya hanya sebatas pura-pura. Kembali lagi mengecap sunyi dalam setiap keramaian. Bersandiwara lagi dibalik kesengsaraan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resah

Kali ini saja beberapa hati sedang resah, entah karena sudah tak lagi punya rasa atau hanya diabaikan tanpa arah. Sebuah tunggu tanpa di tunggu. Keresahan yang menjelma menjadi kekesalan yang tak kunjung temu. Hanya karena kau sukar untuk di temukan, kemudian resah ini menjadi tak beraturan.  Hanya bisa bungkam, dan memendam dalam harapan yang di rengkuh temaram. Kau jernih diantara buram, kau nyata diantara pudar. Namun kau menanggalkan dan aku keresahan. Sudah tak ada lagi rasa. Hanya resah yang terus berdatangan, mengutuk diri dalam hati yang semakin gundah.

Tertatih

Sekarang aku yang menyendiri dalam sudut sepi, tatkala harus tertatih menanggalkan bahagia yang sudah terhenti. Kita mungkin sudah tidak seirama, kita mungkin hanya sekadar kebahagiaan sementara. Tak abadi, seperti garis waktu yang terus melaju. Tentang kebahagiaan yang tertutup lara, hingga aku kira kau tempat kebahagiaan, nyatanya hanya sepintas kesementaraan. Luluh lantak sudah hati ini, sudah tak punya tawa, mati dalam tiap rima yang tercipta. Kita pernah sedekat nadi, dan akhirnya berujung di jauhkan pergi. Kau akan selalu kusematkan dalam setiap sedih, tertatih mencari ujung duka yang tak pernah sudah. Kita lebur dalam takdir. kita hancur dalam jarak, mengundang kerinduan yang perlahan berkerak.